Sabtu, 18 Juli 2009

AIDS, Narkoba dan Pergaulan Bebas

AIDS, Narkoba dan Pergaulan Bebas

12 01 2006

Narasumber: dr Soares dan Frater Yohanes Kopong, MSF Host: Rocky Natio Pasaribu dan Theofilus Lie Wa

aidsribbon.jpgRekan setia, seperti kita ketahui bersama bahwa 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Data-data terakhir yang muncul mengenai perkembangan penderita HIV maupun AIDS di dunia sangat menyentak kita. Lebih menyentak lagi memperhatikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang perkembangannya sangat cepat dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Hal ini merupakan momok dan harus ditangani secara serius.

Rocky: Dokter, sebelum kita masuk lebih jauh dalam substansi, bisa Dokter jelaskan mengenai fenomena pergaulan bebas, narkoba, serta AIDS itu sendiri dari sudut pandang medis?
Dr.Soares: Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship).Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskrriminasi, sebab hal itu melanggar HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermsayarakat. Jadi, kalau secara medis kalau pergaulan bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini. Begitupun dengan narkoba, narkotika dan obat-obatan berbahaya adalah suatu kemajuan dalam bidang medis yang dicapai oleh manusia yang ditujukan untuk membantu manusia dalam aspek medis. Jadi jika narkoba dipakai diluar aspek medis, itu adalah suatu pelanggaran hukum atau norma yang sebenarnya.

Rocky: Apa bedanya HIV dengan AIDS?
Dr.Soares:
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kumpulan gejala atau sindroma akibat dari kekurangan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, jadi HIV adalah virus yang menginfeksi manusia dan menyebabkan AIDS. Jadi AIDS merupakan suatu fase dari infeksi HIV.

Theo: Baik, kembali ke fenomena perkembangan jumlah penderita Dok. Sejauh ini berapa banyak penderita HIV dan AIDS di Indonesia saat ini, bagaimana di Kalimantan Timur khususnya Kota Balikpapan?
Dr.Soares: Bicara mengenai jumlah penderita AIDS atau HIV positif adalah suatu hal yang gampang-gampang susah, tetapi yang pasti dari awal tahun 2000 an angkanya meningkat dengan drastis. Diperkirakan oleh Departemen Kesehatan penderita HIV-AIDS di Indonesia antara 80.000 – 120.000 orang, di Kalimantan Timur tahun 2005 jumlah penderitanya sekitar 56 orang, dan separuhnya di Balikpapan.

Theo: Dari jumlah tersebut, apakah dapat diidentifikasi kategorisasinya, misalnya dari segi umur, jenis pekerjaan, cara terinfeksi, dan kategori lain?
Dr.Soares: Penderita HIV-AIDS secara nasional memiliki pola dimana lelaki lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan dengan perempuan. Di Jakarta, penularannya lebih banyak dikalangan pengguna narkoba jenis suntikan, tetapi di Papua, penularannya lebih banyak melalui aktivitas seksual bebas. Secara nasional penularannya melalui hubungan seks dan penggunaan jarum suntik dikalangan pengguna narkoba, sedangkan melalui transfusi darah masih belum terdeteksi. Usia penderita kebanyakan berkisar antara 20 – 30 tahun, jadi dewasa muda.

Rocky: Baik, masih menyambung pertanyaan sebelumnya sebelum beralih ke Frater Koppong. Baik Dokter, dari sudut pandang orang awam dan medis, apakah ada dampak positif dari suatu pergaulan bebas?
Dr.Soares: Kembali lagi, kalau kita berpegang pada hakikat pergaulan yang sesungguhnya, tentunya pergaulan bebas itu ada dampak positifnya bila mengikuti rambu-rambu norma hukum, agama, budaya dan masyarakat, yang dianut oleh setiap kelompok masyarakat. Dengan bergaul secara bebas tapi taat norma, setiap individu dapat belajar untuk mandiri, mengetahui kelebihan dan kekurangan, mendewasakan secara psikis, mental dan masih banyak lagi manfaat positif lainnya.

Rocky: Frater, bagaimana sih gereja memandang pergaulan bebas dan narkoba serta AIDS ini?
Frater: Untuk memperjelas masalah pergaulan bebas, kita perlu melihat per kasus dan dampaknya bagi perkembangan hidup kaum muda itu sendiri. Kalau pergaulan bebas menyangkut masalah free seks dan pada akhirnya mengarah pada tindak kejahatan yang lain seperti Narkoba, HIV-AIDS, miras dan lainnya; maka Gereja memandang hal itu sebagai sebuah tindakan immoral yang merupakan dampak dari berbagai krisis sosial ekonomi yang dialami bangsa. Mengapa di sebut sebagai tindakan immoral, karena kapasitasnya sebagai manusia utuh dan yang bermartabat (dalam hal ini sebagai Kaum Muda yang adalah Genereasi penerus bangsa dan Gereja) direndahkan bahkan dilecehkan dengan tindakan atau sikapnya yang melanggar norma moral dan iman. Untuk AIDS sendiri, Gereja memandangnya sebagai masalah yang mengancam segala aspek kehidupan baik individu maupun sebagai anggota manusia sedunia. Bagi Gereja AIDS bukanlah masalah kesehatan semata, melainkan juga masalah moral, hubungan sosial, ekonomi, etika, hukum dan lain-lain. Gereja memandang bahwa HIV-AIDS dan Narkoba merupakan kejahatan sosial baru yang merupakan dampak dari situasi bangsa yang berada dalam lingkaran kemiskinan. Singkatnya baik free sex, Narkoba dan AIDS merupakan tindakan penyalahgunaan yang bertentangan dengan nilai-nilai iman dan moral.

Rocky: Bisa mungkin Frater ceritakan, apa saja usaha-usaha yang telah dan/atau akan Gereja Katolik lakukan untuk meminimalisir dan mencegah perkembangan AIDS ini?
Frater : Pertama-tama saya mau mengatakan katakan bahwa Gereja tidak mempunya solusi yang tepat dalam proses pencegahan AIDS (karena AIDS menyangkut banyak aspek), tetapi lebih memberikan anjuran dan pesan moral untuk membuka sebuah cakrawala baru mengenai masalah tersebut bagi pendampingan keluarga, kaum muda semua umat beriman. Usaha-usaha yang telah (menurut pengamatan saya pribadi) Gereja lakukan adalah dengan mendirikan Yayasan Rehabilitasi bagi para pencandu narkoba seperti kalau di Yogyakarta: Yayasan HANA. Mengadakan seminar-seminar seputar HIV-AIDS, NARKOBA dan dampaknya bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Langkah yang lainnya adalah mengajak seluruh komponen, terutama keluaraga-keluaraga, kaum muda untuk mampu bertanggung jawab atas perilakunay dan sadar akan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan yang sangat dicintai oleh-Nya. Maka dari itu bagi Gereja sebagaimana yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II, upaya HIV-AIDS senantiasa melalui penyebaran informasi yang lengkap dan berlandaskan pada nilai-nilai positif kepada setiap insan khususnya kaum muda agar dapat terjadi perubahan sikap dan cara hidup yang baru sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Bagi mereka yang tertular AIDS, Gereja juga tidak menutup mata, melainkan mendoakan mereka dan memperhatikan serta merangkul mereka dengan penuh cinta kasih sebagai makhluk yang bermartabat.

Theo: Bagaimana peran keluarga dalam hal ini?
Frater: Yang jelas peran keluarga khususnya orang tua adalah berkewajiban mendidik ana-anak agar mereka berperilaku penuh tanggung jawab, termasuk perilaku seksual. Keluarga-keluarga hendaknya menciptakan suatu lingkungan yang kondusif, harmonis, simpatik dan empathy bagi bertumbuhnya nilai-nilai iman dan moral dalam keluarga. Peranan keluarga yang lainnya adala memberikan informasi yang tepat kepada anak-anak, dan mendidik mereka agar sedini mungkin mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rocky: Frater, setelah kita mengetahui fakta-fakta bahwa betapa pesatnya pertumbuhan pengidap HIV dan penderita AIDS dewasa ini dan telah mencapai suatu angka yang sangat mengkhawatirkan dan sebagian besar muncul akibat dari pemakaian narkoba serta pergaulan bebas dalam pengertian sex bebas serta lebih jauh lagi si pengidap sebagian besar merupakan kalangan muda yang produktif dan atau yang diharapkan akan produktif, apa kira-kira yang harus kita sebagai umat Katolik, serta Gereja Katolik harus lakukan pada masa-masa mendatang ini untuk mencegah lajunya perkembangan yang mengkhawatirkan ini Frater?
Frater: Masalah-masalah yang sudah dibahas di atas, sebenarnya merupakan dampak dari berbagai persoalan yang dihadapi (persoalan prbadi, keluarga) yang akhirnya mambawa seseorang pada penyalahgunaan-penyalahgunaan. Di sisi lain baik pergaulan bebas (free sex, narkoba, HIV-AIDS merupakan tawaran yang sudah merupakan satu mata rantai lingkaran setan yang menggerogoti kehidupan kaum muda pada khsususnya. Untuk itu menurut saya; usaha yang bisa kita lakukan adalah memberikan informasi postitp (tidak menakut-nakuti) yang lengkap mengenai permaslaahan-permasalahan dan dampaknya bagi kehidupan manusia serta memberikan pendampingan (keterlibatan dalam satu organisasi), kunjungan. Pendampingan dan kunjungan ini lebih menyangkut nilai-nilai iman dan moral yang hendak kita sampaikan untuk membuka wawasan bagi mereka agar mampu mengubah cara pandang mereka dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tawaran-tawaran di atas.

Rocky: Kalau dari segi medis, Dokter?
Dr.Soares: Sebagai seorang dokter dan juga sekaligus Katolik, saya melihat bahwa banyak yang dapat dilakukan oleh Gereja Katolik. Saya pernah membaca kisah hidup Santo Yohanes Bosco, hari rayanya tanggal 31 Januari, dimana beliau berjuang untuk membantu memberdayakan kaum muda di Italia pada masanya dengan menggunakan gereja sebagai pusat doa dan karya bagi kaum muda. Saya dibesarkan secara moral dan spiritual di lingkungan gereja saya, sewaktu saya di Timor Timur, Paroki saya namanya Paroki Santo Antonio Motael – Dili. Setiap Katolik jika mau bercermin pada kaidah-kaidah atau norma-norma ajaran Katolik dan bertingkah laku menurut aturan itu serta lingkungan Parokinya, saya yakin Gereja Katolik dapat menjawab tantangan pergaulan bebas yang marak dan infeksi HIV-AIDS yang merajalela saat ini.

Rabu, 25 Februari 2009

PERTANIAN DI JEPANG

Membangun Pertanian Ala Jepang
PENGANTAR
Dalam rangka meningkatkan jaringan kerjasama dengan Negara-negara asing, pemerintah Jepang melalui JICA mengundang pemuda-pemuda Asean untuk melakukan pertukaran informasi dan studi banding. Program ini dikenal dengan “Japan-Asean Youth Friendship Program”. Tahun 2006 ini pelaksanaannya berlangsung dari tanggal 28 Mei – 23 Juni 2006 dengan bidang-bidang yang dipelajari adalah Pertanian, Kesehatan, Pendidikan, dan Lingkungan hidup. Program yang dicetuskan oleh PM. Yasuhiro Nakasone tahun 1984 ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar baik bagi pemuda Asean maupun Negara Jepang sendiri. Bagi Pemuda Asean tentu saja sangat bermanfaat bagi pengetahuan dan informasi baru yang mungkin dapat dipelajari dan diterapkan di Negara masing-masing. Sedangkan bagi Jepang sendiri terutama dalam meluaskan jaringan persahabatan dan perdagangan mereka. Usai mengikuti program ini, ada beberapa hal penting yang mungkin dapat menjadi masukan khususnya bagi dunia pertanian Indonesia dan Kalimantan Barat khususnya.
MEMBANGUN PERTANIAN ALA JEPANG
Miskin Sumberdaya Alam dan Kekalahan Perang
Porsi lahan pertanian Jepang hanya 25% dari total wilayahnya yang sebagian besar berupa pegunungan. Namun jumlah yang kecil tersebut mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Jepang.
Dilatar belakangi dengan sumberdaya alam yang miskin, Jepang menjadi bangsa yang berpola fikir untuk selalu “berkreasi dan menciptakan” di segala bidang termasuk bidang pertaniannya. Pasca kekalahan perang pada Perang Dunia II, Jepang mulai beralih pada pembangunan ekonomi dengan Pertanian sebagai prioritas utama saat itu.
Kebijakan Pembangunan Pertanian Jangka Panjang
Kebijakan Pembangunan pertanian yang diambil telah diperhitungkan memiliki efek jangka panjang untuk keberlangsungan pertanian itu sendiri. Selain itu beberapa kebijakan saling mendukung untuk memunculkan impact yang besar.
Salah satu kebijakan yang diambil dan manfaatnya dirasakan sampai saat ini adalah Peraturan Nasional tentang Konsolidasi (Penyatuan) Lahan tahun 1961. Kebijakan ini diambil karena kepemilikan lahan pertanian saat itu terpecah-pecah dan luasannya kecil sehingga tidak efektif. Kebijakan konsolidasi lahan tersebut berlaku secara nasional dan wajib bagi seluruh petani di Jepang.
Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah Nasional dan Pemerintah Lokal juga memprioritaskan pembangunan infrastruktur sekitar kawasan pertanian seperti jalan usaha tani, saluran air, dll. Tidak heran bila saat ini kepemilikan lahan pertanian berkisar antara 10 – 30 hektar/KK dan berada sekitar jalan raya (yang notabene merupakan jalan usaha tani).
Dengan luas kepemilikan lahan yang besar dan terpusat pada satu lokasi, membuat produktivitas pertanian Jepang sangat tinggi. Hal ini sangat besar manfaatnya terutama karena pertanian hanya bisa dilakukan satu musim (Jepang memiliki 4 musim) yaitu pada musim panas. Produktivitas ang tinggi akan menutupi masa tidak produktif pada musim Dingin dan gugur.
Peran Koperasi Pertanian
Peran pemerintah dalam pembangunan pertanian secara umum semakin lama semakin berkurang. Saat ini pemerintah Jepang hanya berfungsis sebagai pembuat peraturan dan mengeuarkan kebijakan. Sementara berbagai aktivitas lapangan banyak diambil alih oleh Japan Agriculture Cooperative (JA Cooperative) atau sejenis koperasi pertanian di Indonesia. Sebenarnya terdapat beberapa organisasi pertanian di Jepang, namun yang paling dominant adalah JA Cooperative.
JA Cooperative pada awalnya merupakan lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang sejak awal 1900 an, dan beranggotakan Petani-petani Jepang. Tujuannya adalah untuk membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan petani. Ini berarti bahwa harus terjadi mobilisasi massa petani, mengatur perusahaan pertanian dan aktivitas mereka, serta memperkuat perekonomian mereka.
Agar berhasil menjalankan fungsinya, setiap petani wajib menjadi anggota JA cooperative. Keharusan ini sudah diterapkan sejak tahun 1931. Oleh karenanya saat ini seluruh petani di Jepang otomatis menjadi anggota JA Cooperative.
Saat ini JA Cooperative telah benar-benar bebas dari Pemerintah dan merupakan lembaga swasta murni yang kepengurusannya terdiri dari para petani. Namun demikian kerjasama dengan pemerintah semakin meningkat. Saat ini seluruh wilayah Jepang memiliki JA Cooperative yang secara umum tugas nya adalah sangat banyak yakni:
• Memberikan nasehat dalam mengelola usaha tani, penguasaan teknologi, dan penyebaran informasi pertanian
• Mengumpulkan, mengangkut, dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian
• Penyediaan sarana produksi
• Mengatur pengolahan produk pertanian dan penyimpanan produk
• Sebagai Bank
• Sebagai badan asuransi, dan
• Menyediakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat khususnya petani
Jaringan Usaha yang Kuat
Untuk menjalankan fungsi tersebut JA Cooperative memiliki jaringan kerjasama yang sangat besar dengan dengan pasar local khususnya supermarket, pasar internasional, dan pemerintah. Selain itu JA Cooperative juga memiliki berbagai fasilitas pertanian yang tersebar di seluruh Jepang seperti Packaging center, Processing center, Pasar Saprodi, Pasar penjualan langsung (direct sale market), supermarket, Gudang, Penggilingan beras, Fasilitas pembuat pupuk organic, dll.
Distribusi Produk Pertanian yang terjamin
Dengan adanya JA Cooperative beberapa peran penting dan crucial bagi petani telah diatasi terutama untuk pemasaran. JA Cooperative memberikan jaminan semua produk petani terjual dengan harga diatas rata-rata dan tentu saja ini memakmurkan petani.
Pada prinsipnya terdapat tiga alternative distribusi dan pemasaran produk yang ditawarkan JA Cooperative untuk para produser (petani), yaitu: 1) Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative dengan harga di atas harga pasar (khususnya produk tertentu yang dianggap vital); 2) Petani dapat mendistribusikan sendiri namun melalui petunjuk (advise) dari JA Cooperative (biasanya petani ingin mencari buyer yang lebih tinggi lagi dari JA Coop,); 3) Petani dapat menitipkan produk mereka kepada JA Coop. untuk dijualkan oleh JA Coop. (biasanya perlu waktu agak lama dan hanya untuk produk-produk yang tidak terlalu penting).
Fungsi Perbankan
Sistem distribusi Produk yang paling popular adalah Produk dibeli langsung oleh JA Cooperative. Produk petani yang sudah dibeli oleh JA Coop. juga aman dari segi financial, karena uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening Petani yang otomatis ada di JA Cooperative karena JA Cooperative juga berfungsi sebagai Bank.
Fungsi Bank yang dikelola oleh JA Cooperative kurang lebih sama dengan Bank komersial lainnya. Hanya saja nasabahnya adalah para petani. Bank JA Cooperative juga menyediakan pelayanan pinjaman modal untuk pengembangan usaha pertanian. Dan setiap surplus dari hasil penjualan produk pertanian diarahkan pada investasi dan perluasan usaha pertanian. Dengan demikian fungsi JA Coop. sebagai Bank sangat besar kontribusinya bagi kemajuan pertanian di Jepang.
Fungsi Jasa
JA Cooperative juga mempunyai peran dalam memberikan pelayanan penting lainnya bagi petani Jepang. Diantaranya adalah dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian (termasuk peralatan mesin pertanian), memberikan asuransi produk pertanian, dan pelayanan kesehatan bagi petani.
Berkat pelayanan JA Cooperative atas penyediaan sarana produksi pertanian, para petani mendapat kepastian atas keperluan usaha tani mereka, karena mereka tidak perlu bersusah payah mencari distributor. Sementara itu asuransi produk sangat membantu petani dalam menjaga keselamatan produk mereka. Sedangkan fungsi pelayanan kesehatan petani merupakan suatu ide cemerlang yang menunjukkan betapa pemerintah Jepang dan JA Cooperative sangat menghargai dan menjamin kehidupan para petani mereka.
Subsidi Harga dari Pemerintah
Meskipun saat ini banyak produk pertanian murah juga melanda Jepang (terutama dari China), namun kemakmuran petani masih tetap terjaga dan bahkan meningkat. Karena selain peran JA Coop. yang begitu besar. Pemerintah juga memberikan subsidi harga jual untuk produk tertentu petani local.
Pada saat produk petani di beli oleh JA Coop. (produk tertentu) pemerintah telah mensubsidi ± 50% lebih tinggi dari harga pasar dan JA Coop. menjualnya kembali sama dengan harga pasar. Ini dilakukan ketika harga untuk produk yang sama dari luar harganya lebih murah. Dengan demikian petani Jepang tetap terlindungi dan produk mereka tetap terbeli oleh masyarakat. Dari mana datangnya subsidi tersebut? Tentu saja datang dari industri Otomotif, elektronik, jasa, dan sumber pemasukan lainnya yang tersedia yang dapat mensubsidi silang pertanian. Kita pasti sudah mengetahui bahwa Jepang sangat unggul dibidang otomotif dan elektronik dan pasar produk mereka ada di seluruh dunia.
Kebijakan Prioritas Pada Produk Lokal
Selain memberikan subsidi pada produk tertentu yang dianggap vital (seperti gandum, sugar bit, jagung, kentang, dll) pemerintah Jepang dan JA Cooperative juga mengeluarkan kebijakan agar pasar local memprioritaskan produk local. Supermarket-supermarket dipastikan untuk menyediakan outlet khusus bagi para petani agar dapat melakukan direct sale produk mereka (namun tentu saja kualitas sudah bukan menjadi halangan).
Setiap outlet yang tersedia untuk produk petani local harus dilengkapi dengan photo dan data produsernya (Petani). Tujuannya adalah agar konsumen bisa lebih mengenal siapa yang menghasilkan produk tersebut.
Beberapa pasar memang dirancang khusus untuk para petani agar dapat menjual langsung produk mereka. Sebut saja Niseko Town Direct Sale Station yaitu sebuah pasar langsung di Kota Niseko (Hokkaido) yang khusus menyediakan outlet penjualan langsung untuk 60 petani. Tidak hanya itu para petani juga langsung memanajemen semua aktivitas mulai dari penentuan Harga (Bar Code), Labeling, dan Packaging. Hanya petugas kashir saja yang dilakukan oleh petugas khusus. Para petani akan mendapatkan informasi langsung melalui SMS atau internet tentang produk apa saja yang sudah laku atau produk mana yang permintaannya tinggi. Informasi tersebut bisa ditanya kapan saja, tergantung kebutuhan.
System manajemen Yang baik
Peran dan fungsi JA Cooperative tidak akan berjalan sesuai rencana jika tidak dikendalikan dengan system manajemen yang baik. Mulai dari manajemen intern sampai manajemen yang terkait kerjasama dengan pihak pemerintah dan jaringan pasar. Hal sekecil apapun diperhatikan dan dipertimbangkan oleh pihak JA Cooperative untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan mereka demi memakmurkan petani dan masyarakat Jepang. Di sisi lain, Pemerintah Jepang memahami benar bahwa meskipun sudah menjadi Negara industri maju, namun memandang pertanian sebagai salah satu penentu kemakmuran Jepang. Oleh karena itu, meskipun lahan pertanian Cuma menempati kurang dari 25% dari total areal Jepang namun Pemerintah Jepang sangat memperhatikan pengelolaannya.
Pertanian Organik, Agrowisata (Green Tourism), Konservasi Lingkungan
Konsep pembangunan pertanian di Jepang sejak tahun 1980 an sudah mengacu pada tiga hal pokok yaitu Pertanian organic, Green Tourism, dan Konservasi Lingkungan. Pertanian organic bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian yang aman, berkualitas dan sehat bagi konsumsi. Pemerintah juga mengarahkan pembangunan pertanian tidak hanya untuk penyediaan pangan saja, melainkan sekaligus dapat menjadi objek wisata. Tidak heran bila sebagian besar kawasan pertanian di Jepang sangat menarik dan indah karena memang mereka sangat memperhatikan surface (penampilan) di setiap lahan pertanian yang ada. Konsep pembangunan pertanian lainnya adalah pembangunan pertanian yang tetap menjaga kelestarian lingkungan. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan pertanian organic. Kombinasi kedua konsep ini menyebabkan pertanian di Jepang lebih berkesinambungan (Sustainable Agriculture).